blognyaismawati

tempat melepas jenuh dan menyalurkan hobi

Surat Dariku Untuk Diriku

| 0 comments

Halo Diriku,

Tak terasa sudah hampir 7 tahun waktu bergulir. Bagaimana kabarmu? Kumasih bisa merasakan kegalauanmu ketika harus mengikuti suamimu tinggal di kampung halamannya. Kutahu kau benar-benar merasa sendiri di sana, karena sejak kecil kau tak pernah terpisah dari keluargamu di Jakarta. Tapi pada akhirnya kau bisa bertahan sampai sekarang, dan kurasa kau mulai menikmati kehidupan di sana.

Aku yakin, kau malah akan kebingunan bila ibumu tiba-tiba memintamu beserta suami dan anak-anak untuk kembali tinggal di Jakarta… hahaha… karena itu berarti kau harus kembali memulai semua dari nol. Di tempat tinggalmu sekarang kau tidak perlu menghabiskan waktu lama di jalan untuk ke tempat tujuan. Udara di sana juga jauh lebih bersih dan masih banyak hamparan sawah yang bisa kau nikmati pemandangannya. Lumayan bukan sebagai pengobat stres dan pencegah penuaan?

Oya, bagaimana dengan anak-anakmu? Aku masih ingat cerita-ceritamu tentang mereka. Tujuh tahun lalu, si sulung Lubna masih di TK kecil ya. Dulu kau sering berkisah tentang si pendiam ini, tentang kegemarannya mewarnai dan mencoret-coret. Ia banyak membuat coretan di rumahmu, termasuk di dinding, seprei, bahkan di wajahnya sendiri. Pernah kau meninggalkan Lulu dan adiknya bermain berdua di kamar karena kau sibuk di dapur untuk memasak sambil mencuci piring. Ketika kau datang, ternyata Lubna sudah melukis wajah adiknya dengan spidol permanen milikmu. Antara marah dan tertawa geli kurasa ekspresimu saat itu.

Berarti Lubna sekarang sudah kelas 2 SD ya? Ah, kuyakin ia menjadi anak yang cerdas dan kesayangan gurunya, seperti juga dirimu dulu. Ingat kan, dulu wali kelasmu menjadikanmu murid favoritnya sampai-sampai ia memintamu untuk membantu mengisi rapot teman-teman. Waktu itu tentu saja kau merasa sangat senang, seperti mendapat kehormatan bisa melihat nilai teman-temanmu meski kau juga merasa capek karena harus menulis nilai untuk sekitar 35 siswa.

Bagaimana juga dengan si kecil Tsalis? Terakhir kulihat ia masih belajar berjalan, tapi ia lebih suka menggunakan pantatnya untuk berpindah tempat. Kau sempat khawatir tentang bicaranya yang terlambat. Pasti sekarang ia jadi anak yang sangat aktif dan senang bereksperimen dengan perkakas milik abinya yang suka memperbaiki benda rusak di rumah.

 

Diriku,…

Sekarang anak-anakmu bukan lagi bayi. Kurasa kini sudah waktunya untuk menggali kembali cita-cita yang pernah kau kubur dulu. Bukankah kau berkeinginan mengamalkan ilmumu untuk masyarakat luas? Beranikan dirimu, kau punya lebih banyak waktu luang sekarang. Ayolah, buatlah surat lamaran ke sekolah-sekolah agar kau bisa mengajar di sana. Mereka membutuhkan kemampuan mengajarmu. Atau kau bisa membuka sekolah sendiri, memang akan terasa berat bila kau harus memulai dari awal tapi ini obsesi dan cita-citamu sejak lama.

Tapi, aku tak tahu pasti kesibukanmu belakangan ini. Yang kutahu selain sibuk dengan anak-anak, kau juga menyambi sebagai penulis konten dan penerjemah. Apakah kau masih menikmati kegiatan ini? Ya.. ya.., kau memang bukan tipe orang yang suka keramaian. Kau lebih suka duduk di sudut ruangan bersama laptopmu dan memainkan jarimu sebagai “me time” sekaligus mendapat penghasilan. Kau juga bukan orang yang suka ngobrol ngalor-ngidul dengan para tetangga di sore hari.

Kau merasa lebih produktif ketika menggunakan waktu luang untuk membuat kreasi dari barang bekas atau menulis. Tapi saranku, sekarang jangan terlalu mengurung diri di dalam rumah. Anak-anakmu kan sudah besar, dulu mungkin kau terlalu sibuk dengan anak-anak yang masih kecil sehingga tak ada waktu bagimu sekedar untuk bercengkerama dengan penghuni rumah kanan kiri depan belakang. Sesekali perlu juga menyegarkan pikiran dengan ikut nimbrung bersama mereka selain juga kau bisa update tentang apa saja yang terjadi di sekelilingmu.

Semoga apapun yang kau usahakan bisa berhasil. Tapi meski gagal, setidaknya kau sudah melakukan yang terbaik.

 

Salam,

 

Dirimu sendiri

 

Author: Ismawati

Ibu dari dua anak, suka menulis dan belajar masak tapi takut sekali menjadi pikun. Buat saya menulis bukan cuma hobi tapi juga senjata melawan kepikunan :) Semoga apa yang saya tulis ada manfaatnya buat para tamu yang mampir ke sini.

Tinggalkan Balasan

Required fields are marked *.